STORY MY OTHER FAMILY "DIFFICULT TO TAKE CARE OF CATS"

 HARI KE 3

Banyak yang bilang 3-4 hari adalah adalah masa paling kritis bagi anak kucing bertahan hidup, dan benar saja aku harus kehilangan satu anak kucingku yang dimana sebelumnya aku pernah menjelaskan bahwa kakinya terpelintir ini mengalami kebangkakan. Bertahan selama 3 hari akhirnnya ia menghembuskan nafas terakhirnya, padahal saat itu badannya udah besar dibanding dengan yang lain tapi karena sulit berjalan dan bersaing dengan yang lain jadi akhirnya ia menyerah. Dan aku juga baru sadar ternyata warnanya ini bukan hitam melainkan abu-abu. Akupun mneguburnya disamping rumah yang memang masih ada tanah kosong yang dijadikan tempat menanam tanaman singkong oleh ayahku.


Terlihat jelas kakinya bengkak banget meski badannya besar

HARI KE 7

Harusnya ini adalah masa yang indah setelah melewati masa kritis sebelumnya, tapi mau bagaimana lagi salah satu anak kucingku ada yang mati lagi. Kali yang berwana putih dengan totol hitam. Ia mati karena kalah saing dengan saudara-saudaranya. Padahal aku selalu memastikan agar semuanya kebagian susu, karena jujur saja Cimot sangat payah mengurus anak. Tidak seperti kucing kampung yang tanpa dilihat atau dirawat manusiapun bisa membesarkan anaknya sendiri. Cimot jika tidak kita perhatikan dia tidak akan peduli anaknya sudah menyusu semua atau belum, ya mau tidak mau aku memberi susu formula tambahan beserta dot dan pipit agar mereka mudah meminumnya. Tapi memang belum takdir akhirnya yang ini pun ikut mati menyusul yang sebelumnya.

 Ini adalah foto sehari sebelum meninggal

HARI KE 10

Hari ini adalah hari dimana ketiga anak kucing yang tersisa membuka matanya semua. Memang dua lainnya yaitu si belang tiga dengan nama EBOT dan si ganteng dengan nama WIKWIK sudah membuka matanya terlebih dahulu dibanding si abu-abu kecil ini. Si abu-abu kecil ini biasa dipanggil NYINYING karena badannya yang kecil dibanding dengan Ebot dan Wikwik. Membuka mata saja sebelah dan akhirnya aku bantu dengan mengelapkan air hangat kematanya, alhasil tepat 10 hari akhirnya terbuka dua-duanya dan lengkaplah ketiganya bisa membuka mata.

Sisa mereka bertiga

HARI KE 30

Masa yang paling sedih dimana setelah berjuang dari masa-masa krisis tapi harus ditinggal lagi. Sang jagoan satu-satunya atau Wikwik harus ikut menyusul kedua saudaranya yang pergi terlebih dahulu. Padahal belum sampai sebulan ketiga nya sudah bisa berjalan meski masih sempoyongan. Dan Wikwik sendiri adalah yang paling lincah dan aktif dibanding kedua saudarinya. Badannya sendiri paling panjang dibanding Ebot dan Nyinying, tapi kurang dari seminggu mau sebulan ini kondisinya turun drastis usai ia diare. Nafasnya juga lebih cepat dari biasanya. Aku sudah membelikan obat diare dan meminumkan air garam tapi masih saja lemas. Minum susu pun harus paksa agar mau minum. Kondisinya sempat membaik tapi turun drastis lagi bahkan jadi sulit bangun dan berjalan. 

Aku dan Mama sempat pasrah dengan kondisinya yang semakin buruk tapi keesokan harinya Wikwik kembali membuka mata dan mulai berjalan meski tertatih-tatih. Aku dan Mama sangat senang mungkin Tuhan masih memberinya kesempatan untuk hidup lebih lama. Tapi siapa sangka hari itu hanya jadi hari perpisahan darinya, ia mungkin diberi waktu agar kita bisa melihat dirinya seperti sehat. Paginya genap di sebulannya mereka Wikwik menutup matanya. Sedih sudah pasti, merawatnya selama sebulan ini membuat aku merasakan seperti ibu di tinggalkan anaknya.

Wajahnya seperti pake topeng kalau di foto gak keliatan matanya

Ya dan hasil tinggalah dua anak kucing dan satu biangnya yaitu Cimot yang aku rawat. Tapi itupun tidak lama karena Nyinying sudah dipinta kembali oleh temanku yang dulu adalah majikan dari Cimot. Sebenarnya gak rela banget karena Nyinying ini yang paling susah aku rawatin. Dari dia yang telat buka matanya, selalu gak kebagian kalau nyusu, perutnya yang luka seperti bolong, dan kakinya yang berjamur. Benar-benar perjuangan banget merwatnya, dan paling yang tidak rela banget adalah karena Nyinying inilah yang mukanya paling lucu berasa gak bersalah banget liat mukanya. Belum lagi Nyinying ini setelah besar jadi paling gampang disuruh ini itu dan nurut, bahkan bisa dikatakan paling pendiam tidak terlalu aktif seperti Ebot yang lari sana sini dan suka naik-naik. Bahkan untuk buang air ke toilet saja diajarkan dua kali langsung ngerti.

Wajahnya Nyinying ini mirip banget sama digambar pasir kucing yang merk Markotop


Ebot dan Nyinying itu susah banget difoto berdua ada aja tinggah mereka 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review novel "ALWAYS AND FOREVER, LARA JEAN" BY Jenny Han

STORY MY OTHER FAMILY "BIRTH OF CIMOT"