STORY MY OTHER FAMILY "MY PETS"

Dari kecil aku memang sudah terbiasa dengan hewan karena orangtuaku secara tidak langsung mengajarkan aku dekat dengan hewan jadi sama yang namanya hewan aku gak takut, malah bawaannya pengen pegang. Setakut-takutnya aku sama hewan yang aku gak suka tapi kalau untuk megang aku berani.

KAMBING

Keduanya jantan dan tidak diberi nama juga

Dari aku kecil keluargaku selalu pelihara kambing untuk tabungan. Beli yang kecil kemudian dewasa dijual terutama yang jantan. Jika dapat betina biasanya dikawinkan dengan orang yang sesama punya kambing habis itu akan beranak pinak dan kembali dijual. Begitu terus sampai terakhir di tahhun 2017. Dari tahun tersebutlah keluargaku sudah tidak pelihara kambing lagi, katanya sih sudah capek dan nyari rumputnya juga sudah lumayan susah.

ULAR 

Ayahku memang suka memungut apa saja jika sedang mencari rumput, contohnya ular. Bukan sembarang ular tapi ini adalah ular cobra yang kita tahu punya bisah yang mematikan. Tapi anehnya ditangan ayahku ular cobra ini justru jadi jinak, bahkan begitu jinaknya sampai saat dilepaskan kembali ia balik lagi kerumah sampai dua kali. Pernah mencoba pelihara cobra lagi tapi kali itu ularnya kabur entah kemana, dikandang sudah dicek tapi tidak ada. King cobra hampir juga dipelihara tapi mama menolak karena takut dengan ukurannya. Terakhir ada ular sanca yang tidak sampai satu bulan dipelihara tapi sudah ada yang menawar, ya alhasil dijual lah.

BIYAWAK 

Sama halnya dengan ular cobra yang jinak, biyawak inipun jinak dengan ayahku. Ayah menemukan biyawak ini dikali dan dibawa pulang, lama merawatnya aku ingat biyawak ini dulu kecil tapi saat itu tanpa terasa sudah menjadi besar. Orang bilang minyak biyawak ini adalah obat begitupula dengan dagingnya, ada orang yang saat itu sakit dan meminta biyawak ini untuk dimakan dagingnya. Ayah saja sampai meneteskan air mata saat memotongnya. 

Tidak cuma sekali biyawak lumayan sering dipelihara oleh ayah namun tidak bertahan lama karena banyak yang menawar untuk membeli minyak atau dagingnya.

KELINCI

Kelinci pertamaku sepasang berwarna putih, diberikan oleh pamanku. Namun usai melahirkan semua kelinci ku ini mati dimakan anjing liar. Tidak henti disitu aku diberikan kelinci dan lagi-lagi berwarna putih. Sampai akhirnya bibiku memberikan aku seekor kelinci berwarna cokelat. Finally aku punya kelinci yang warnanya bukan putih. Sama halnya dengan biyawak, kelinci ini juga dijual anak-anaknya karena tidak mungkin juga aku menampung mereka semua belum lagi mencari rumput untuk mereka. Sampai akhirnya sisa satu yang berwarna putih ini aku berikan ke sepupuku.

BURUNG

Burung disini adalah burung hantu kecil yang biasa disebut celepuk. Aku masih kecil saat itu memelihara burung ini. Lucu sekali bentuknya yang kecil dan matanya yang besar, belum lagi saat menoleh seperti tidak ada tulangnya bisa menengok sampai hampir 90 derajat. Tapi ya lagi-lagi harus dijual karena saat itu aku sakit dan butuh dana. Usai itu ayah memelihara burung tekukur. Aku tidak terlalu ingat dengan burung ini akhirnya kemana tapi aku ingat saat itu burung ini nurut sekali setiap hari dilepas dan sore pulang.

HAMSTER

Ini adalah binatang yang pertama kalinya aku beli. Saat itu kakakku memberikan seekor hamster betina beserta kandangnya, melihat hanya ada satu akhirnya aku belikan pasangannya tapi siapa sangka malah jadi berantem. Aku pisahkan lah mereka tapi si betina ini justru kabur entah kemana dan terakhir aku menemukannya di bawah kasur dan itupun sudah mati. Tinggalah si hamster yang aku beli, aku biasa memanggilnya Tabi. Hampir setahun aku memeliharanya tapi Tabi kemudian mati karena ada benjolan yang besar diperutnya.

AYAM 

Sampai saat ini ayam masih dipelihara dengan baik dirumah. Ayam kampung yang dimana jika dijual harganya lumayan mahal begitupula dengan telurnya. Aku tidak tahu ada berapa pastinya tapi yang pasti ada 2 kandang yang sudah dibikin oleh ayahku.

KUCING

Ini adalah Kudil, kucing kampung belang oren yg ekornya seperti patah

Kudil sendiri aku dapat dari saudaraku. Mama membawanya karena dia adalah kucing cowok dan kebetulan ekornya ini unik seperti mau melingkat tapi kalau diperhatikan seperti bekas patah, dan katanya kalau ada kucing seperti ini pintar mencari tikus. Dan ya memang benar Kudil ini memang pintar mencari tikus, bahkan bukan hanya tikus seperti kadal, bunglon kecil, dan cicak dia pintar sekali menangkapnya.
Aku ingat saat itu Kudil dibawa ke rumah diusia sekitar 3 bulan. Badannya kurus jadi terlihat jelek. Aku yang memang suka dengan kucing langsung menyambut dengan riang kehadiran Kudil ini. Memakaikannya gelang yang saat itu aku belum mampu membelikannya kalung. Aku janji kalau aku diterima kerja aku bakal beliin dia makanan kucing, dan ya akhirnya aku keterima kerja dan gaji pertamaku aku belikan makanan kucing merk Me-O yang kebetulan saat itu berhadiah kalung kucing. Namun kalung itu tidak bertahan lama karena saat Kudil lepas dan kembali kerumah kalungnya sudah hilang, dan sampai 3 kali aku memakaikannya kalung semuanya juga hilang ketika dia main diluar.
Kudil ini begitu penurut jika dibilang tunggu ya dia akan menunggu. Dia juga tidak berani naik-naik keatas kulkas atau lemari-lemari dirumah. Pernah suatu hari aku sengaja menaruhnya diatas kulkas alhasil dia tidak berani turun dan hanya mengeong. Oh ya Kudil ini punya ciri khas untuk eongannya, dia mengeong "MAU" seperti manusia minta makanan. Inilah yang semakin membedakan dirinya dari kucing lain.
Menjelang dewasa sama seperti kucing lainnya Kudil juga mencari pasangan. Dan disinilah dia mulai bandel tidak pulang kerumah sampai 3 hari. Dicari-cari ternyata ada dirumah tetangga yang ada kucing betinanya, dibawa pulang tidak lama kemudian pergi lagi. Hingga akhirnya untuk pertama kalinya Kudil tidak pulang selama seminggu, dicari-cari tidak ketemu juga. Aku masih postif bahwa ia masih masa birahi jadi pergi jauh tapi herannya ini sudah seminggu ia tidak pernah pergi selama ini. Mama bilang Kudil sudah mati tapi aku masih tidak percaya soalnya aku tidak melihat jasadnya. Sampai beberapa bulan kemudian Mama bercerita bahwa Kudil ini mati diracuni dan jasadnya dibuang kebetulan tetangga ku yang melihat cerita ke Mama. Sungguh aku sangat kesal dan sedih saat itu, karena aku sudah tahu siapa yang meracuninya. Ia masih sodara aku dan aku memang tahu watak dia yang membenci kucing, rasanya ingin sekali aku maki-maki tapi tidak mungkin karena dia jauh lebih dewasa dariku bahkan lebih dewasa lagi dari Ayahku. Aku hanya bisa berdoa semoga ia bisa mendapat balasan yang setimpal.
 
Dan inilah kucingku yang tersisa yaitu Cimot dan Ebot. Ibu dan anak yang sangat beda jauh,bahkan orang-orang tidak percaya kalau mereka ini ibu dan anak.
dari yang hanya setelapak tangan sekarang susah payah memegang dua tangan pd hal baru 5 bln



Ebot itu nggak bisa ketinggalan induknya
 
ketika mereka tertidur
 

Cimot dulu warnanya abu-abu hitam tapi usai melahirkan bulunya rontok parah dan sekarang jadi begini, tapi tetep cantik kok meski jadi kurusan dibanding dulu



 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review novel "ALWAYS AND FOREVER, LARA JEAN" BY Jenny Han

STORY MY OTHER FAMILY "BIRTH OF CIMOT"

STORY MY OTHER FAMILY "DIFFICULT TO TAKE CARE OF CATS"